Loading...

Penjelasan, Daftar Gejala
dan Penanganan untuk Setiap Kategori
Hepatitis

NO DESKRIPSI
1.

Hepatitis A (HAV)

Penjelasan dan Gejala:

Hepatitis A merupakan hepatitis yang disebabkan oleh varian Virus Hepatitis A atau HAV (Hepatitis A Virus). Sebagian besar penderita Hepatitis A dapat sembuh dengan sendiri dan cenderung tidak berlanjut menjadi jenis hepatitis kronis. Virus Hepatitis A menular melalui perantara makanan dan minuman yang terkontaminasi oleh Virus Hepatitis A, misal melalui sentuhan, keringat, dan terutama tinja dari penderita hepatitis A.
Gejala-gejala Hepatitis A yaitu:
1.Lemas
2.Demam
3.Mual dan muntah
4.Warna urine menjadi gelap
5.Warna tinja menjadi pucat

Penanganan:

Untuk penderita Hepatitis A serta untuk menghindari dari kemungkinan terjangkit Hepatitis A, lakukanlah hal-hal berikut:
1.Vaksinasi Hepatitis A untuk meningkatkan kekebalan tubuh.
2.Menjaga kebersihan tubuh (misal: cuci tangan, mandi).
3.Hindari memakan makanan mentah maupun yang setengah matang. Apabila mengkonsumsi makanan mentah/setengah matang, cucilah terlebih dahulu bahan makanan tersebut menggunakan air bersih yang mengalir.
 

2.

Hepatitis B (HBV)

Penjelasan dan Gejala:

Hepatitis B merupakan hepatitis akibat Virus Hepatitis B (Hepatitis B Virus/HBV) yang dapat ditularkan lewat kontak dengan cairan tubuh penderitanya, yang dapat juga menyebabkan komplikasi. Hepatitis B apabila tidak ditangani dapat membahayakan nyawa penderita maupun komplikasi serta menjadi Hepatitis D.
Penyebab: Virus hepatitis B (HBV) Kontak dengan pasien hepatitis B (cairan, darah, air liur, air mani) melalui jarum suntik, alat mandi, transfusi darah. Penularan juga bisa terjadi saat persalinan.
Gejala-gejala Hepatitis B:
1.Lemas.
2.Mual.
3.Muntah
4.Tidak nafsu makan atau nafsu makan menurun
5.Sakit kepala
6.Nyeri otot, nyeri persendian, demam, rasa tidak nyaman di area sekitar hati, mata menguning, perut membuncit berisi cairan, bengkak di kaki, sesak nafas, penurunan kesadaran.

Penanganan:

Untuk penderita Hepatitis B serta untuk menghindari dari kemungkinan terjangkit Hepatitis B, lakukanlah hal-hal berikut:
1.Vaksin hepatitis B untuk meningkatkan kekebalan tubuh.
2.Menerapkan pola hidup sehat.
3.Menghindari penggunaan jarum suntik yang tidak steril.
4.Melakukan hubungan seks secara aman.
5.Tidak menggunakan sikat gigi bersama.
6.Memastikan pisau cukur yang baru (bukan bekas) apabila mencukur rambut di tempat umum.
7.Bagi penderita hepatitis B yang sudah kronis, pilihan pengobatan yang biasa dilakukan adalah mengonsumsi obat antivirus seperti lamivudin, telbivudin, tenofovir, dan entecavir, serta suntikan interferon.

3.

Hepatitis C (HCV)

Penjelasan dan Gejala:

Hepatitis C merupakan hepatitis yang disebabkan oleh Virus Hepatitis C atau HCV (Hepatitis C Virus). Hepatitis C pada umumnya terjadi melalui perpindahan darah yang terkontaminasi Virus Hepatitis C (HCV) yang kemudian masuk ke dalam aliran darah seseorang yang belum terinfeksi.
Selain itu, Hepatitis C juga dapat terjadi melalui hal-hal atau aktifitas berikut:
1.Aktivitas seksual yang dilakukan antar orang sehat (bukan penderita) tanpa pengaman maupun dengan penderita.
2.Menggunakan narkotika dan obat-obatan terlarang (Narkoba) serta jarum suntik bergantian.
3.Memiliki keluarga dengan riwayat hepatitis C dan terjadi kontak erat dengan penderita.
4.Memiliki luka terbuka yang kemudian terpapar darah orang yang terinfeksi Hepatitis C.
5.Membuat tato atau tindik tubuh dengan peralatan yang tidak steril.
Virus Hepatitis C terbagi menjadi beberapa bentuk yang berbeda (genotipe). Virus Hepatitis C yang paling banyak ditemui adalah Genotipe 1 dan 2. Kasus hepatitis C apabila tidak ditangani dengan baik akan memicu kanker (misal: sirosis atau kanker hati).
Gejala-gejala Hepatitis C yaitu:
1.Lemas
2.Badan pegal.
3.Nyeri otot
4.Nyeri sendi
5.Nyeri perut
6.Mual
7.Muntah
8.Kelelahan
9.Demam
10.Nyeri saat buang air
11.Kotoran (feses) berwarna pucat
12.Nafsu makan hilang sama sekali atau cenderung berkurang
13.Urine berwarna pekat dan gelap
14.Gatal pada kulit
15.Kulit berwarna kuning atau mengalami kekuningan
16.Mata berwarna kuning atau mengalami kekuningan
17.Terjadi penurunan kemampuan kognitif (misal: mudah lupa, sulit fokus)
18.Mengalami memar pada kulit
19.Mudah mengalami pendarahan
20.Kehilangan banyak berat badan atau berat badan menurun drastis

Penanganan:

Untuk penderita Hepatitis C serta untuk menghindari dari kemungkinan terjangkit Hepatitis C, lakukanlah hal-hal berikut:
1.Vaksin dan antivirus Hepatitis C untuk meningkatkan kekebalan tubuh
2.Melakukan aktivitas seksual secara aman.
3.Menghindari berbagi barang pribadi yang berpotensi terkontaminasi darah (sikat gigi atau gunting kuku).
4.Tidak menggunakan obat-obatan terlarang.
5.Pola hidup sehat dan bersih.

4.

Hepatitis D (HDV)

Penjelasan dan Gejala:

Hepatitis D merupakan hepatitis yang disebabkan oleh Virus Hepatitis D atau HDV (Hepatitis D Virus). HDV merupakan pengembangan (mutasi) dari Virus Hepatitis B. Dengan demikian, kecenderungan riwayat penderita adalah berawal dari menjadi penderita Hepatitis B, yang kemudian menjadi Hepatitis D.
Hepatitis D merupakan kondisi di mana hati mengalami peradangan akibat infeksi Virus Hepatitis D (HDV). Jenis hepatitis ini cukup jarang ditemukan, karena kondisi ini biasanya hanya terjadi pada seseorang yang pernah terinfeksi hepatitis B (HBV) atau sedang menderita hepatitis B kronis.
Gejala-gejala Hepatitis D yaitu:
1.Kelelahan
2.Kehilangan nafsu makan atau nafsu makan berkurang
3.Nyeri hati
4.Nyeri perut
5.Mual
6.Muntah
7.Nyeri sendi
8.Nyeri otot
9.Sering mengantuk
10.Kulit berwarna kuning atau mengalami kekuningan
11.Mata berwarna kuning atau mengalami kekuningan
12.Badan mengalami memar
13.Mengalami perdarahan
14.Mengalami kelelahan
15.Konsentrasi menurun
16.Gatal-gatal pada kulit
17.Warna feses menjadi pucat
18.Warna urine menjadi lebih gelap
19.Pembengkakan perut

Penyebab utama Hepatitis D adalaah Virus Hepatitis D (HDV). Selain itu, Hepatitis D juga dapat disebabkan oleh adanya Kontak langsung dengan cairan tubuh (darah, keringat, air liur, sperma) dari orang yang terinfeksi hepatitis D. Berikut merupakan beberapa hal yang menjadi penularan Hepatitis D:
1.Menyentuh luka seseorang yang terinfeksi Virus Hepatitis D.
2.Berhubungan seksual dengan seseorang yang terinfeksi Hepatitis D.
3.Berbagi jarum suntik (atau penggunaan jarum suntik bekas) dengan orang yang terinfeksi Hepatitis D .
4.Memakai barang pribadi (pisau cukur, sikat gigi) secara bergantian dengan orang yang terinfeksi hepatitis D.
5.Menerima transfusi darah dari orang yang terkontaminasi virus HDV.
6.Pada beberapa kasus, penularan Hepatitis D juga bisa terjadi saat proses melahirkan dari ibu yang terinfeksi Hepatitis D kepada bayinya.

Penanganan:

Untuk penderita Hepatitis D serta untuk menghindari dari kemungkinan terjangkit Hepatitis D, lakukanlah hal-hal berikut:
1.Vaksin dan antivirus Hepatitis D untuk meningkatkan kekebalan tubuh.
2.Pola hidup sehat dan bersih.
3.Diagnosa ke dokter atau self-diagnose melalui SITI (diskusikan hasil lebih lanjut dengan dokter)
4.Melakukan tes darah untuk mendeteksi infeksi dan keberadaan antibodi anti-hepatitis D dalam darah yang menandakan bahwa pasien telah terinfeksi virus HDV.
5.Melakukan tes uji fungsi hati untuk mengukur kadar protein, bilirubin, dan enzim hati yang menjadi indikator kerusakan pada fungsi hati.
6.Melakukan pengambilan sampel hati (biopsi) untuk diperiksa di laboratorium.
7.Tes pencitraan (USG, CT Scan MRI) untuk mendeteksi adanya kerusakan pada hati.
8.Hindari penggunaan barang bersama dengan penderita.

5.

Hepatitis E (HEV)

Penjelasan dan Gejala:

Hepatitis E merupakan hepatitis yang disebabkan oleh Virus Hepatitis E (Hepatitis E Virus/HEV).Virus ini menyebar melalui konsumsi makanan dan minuman yang telah terkontaminasi oleh HEV, misal dari feses penderita atau cairan tubuh. Selain itu, penularan juga bisa terjadi melalui transfusi darah antara penderita dengan orang sehat, atau antara ibu hamil yang terinfeksi virus hepatitis E dengan janin, serta hubungan intim antara penderita dengan orang sehat tanpa menggunakan pengaman. 
Virus ini kerap terjadi di negara berkembang yang masih memiliki masalah terkait dengan kebersihan dan sanitasi yang buruk. Hepatitis E dapat berkembang menjadi penyakit kronis bila menginfeksi penderita yang memiliki sistem imun lemah serta tidak mendapatkan penanganan medis dengan segera. Oleh karenanya, mengenal penyebab serta gejala hepatitis E adalah hal penting yang perlu dilakukan agar bisa mendeteksi penyakit ini sedini mungkin. Jika seseorang terjangkit hepatitis E, orang tersebut akan mengalami infeksi hati akut.
Gejala-gejala Hepatitis E:
1.Demam.
2.Mual
3.Muntah
4.Mudah lelah atau kelelahan yang sangat terasa
5.Ruam pada kulit dan terasa gatal
6.Nyeri pada perut
7.Nyeri sendi
8.Nafsu makan menurun atau berkurang
9.Kulit berwarna kuning atau mengalami kekuningan
9.Mata berwarna kuning atau mengalami kekuningan
10.Urine berwarna gelap menyerupai teh
11.Feses berwarna pucat
12.Organ hati membengkak atau mengalami pembengkakan.
 

Penanganan:

Untuk penderita Hepatitis E serta untuk menghindari dari kemungkinan terjangkit Hepatitis E, lakukanlah hal-hal berikut:
1.Banyak beristirahat, mengonsumsi makanan sehat dengan gizi seimbang, serta minum air putih yang cukup sebagai upaya meringankan gejala. Dalam hal ini, Hepatitis E cenderung bisa sembuh dengan sendirinya tanpa pengobatan asalkan mengikuti pola hidup sehat dan bersih serta cukup istirahat dan asupan nutrisi. 
2.Sedia obat pereda nyeri atau penurun demam untuk menjaga diri dari gejala-gejala Hepatitis E (dengan resep dokter)
3.Bagi ibu hamil yang terinfeksi Hepatitis E, disarankan untuk menjalani rawat inap, sehingga dokter dapat memantau kondisi tubuh pasien secara berkala.
4.Resep dokter untuk obat anti virus (Ribavirin, Peginterferon alfa-2a). 
5.Apabila hasil pemeriksaan menyatakan bahwa kerusakan hati pasien cukup parah, maka dapat mempertimbangkan untuk melakukan transplantasi hati (atas petunjuk dokter), serta tetap memerlukan konsumsi obat antivirus selama 3-12 bulan.

6.

Hepatitis Akut

Penjelasan dan Gejala:

Hepatitis Akut merupakan hepatitis yang diakibatkan oleh adanya peradangan pada organ hati (liver) penderita dengan periode peradangan berlangsung kurang dari enam bulan. Hepatitis A1.kut disebabkan oleh infeksi satu atau beberapa virus hepatitis (A,B,C,D,E), yang dikombinasikan dengan akibat adanya cedera pada organ hati, infeksi bakteri lainnya, serta kerusakan organ hati akibat pola hidup tidak sehat atau tidak bersih. 
Gejala-gejala Hepatitis Akut yaitu:
1.Mual
2.Muntah
3.Demam 
4.Diare berat
5.Air kencing berwarna pekat seperti teh
6.Feses berwarna putih pucat
7.Mudah memar
8.Mengalami perdarahan
9.Kulit berwarna kuning
10.Mata berwarna kuning
11.Gangguan pembekuan darah
12.Kejang
13.Kesadaran menurun
Sebagaimana yang telah disebutkan di awal, Hepatitis Akut salah satunya disebabkan oleh satu atau beberapa Virus Hepatitis (A,B,C,D,E). Namun masing-masing Virus Hepatitis ini memberikan dampak yang berbeda kepada penderita. Hepatitis Akut yang disebabkan oleh Virus Hepatitis A dan Virus Hepatitis E, umumnya dapat sembuh total dalam waktu kurang dari enam bulan. Sedangkan Hepatitis Akut yang disebabkan oleh Virus Hepatitis B, C, dan D, umumnya akan mengarah ke Hepatitis Kronis serta komplikasi.
Selain itu, pola hidup yang tidak sehat dan tidak bersih, juga turut mempengaruhi kesehatan organ hati, sehingga dapat turut menimbulkan Hepatitis Akut. Kebiasaan mengkonsumsi minuman berakhohol dalamjumlah banyak dan dalam waktu lama, menyebabkan terjadinya kerusakan pada jaringan hati. Hal ini dalam medis disebut dengan Hepatitis Akut tipe Alkoholik, dengan gejala-gejala berupa: rasa mual, tidak enak badan, dan demam ringan. Peradangan hati akibat terlalu banyak mengonsumsi minuman beralkohol, dapat berkembang menjadi sirosis apabila penderita menganggap enteng dan tetap mengonsumsi alkohol. 
Konsumsi obat-obatan kimia dalam dosis terlalu besar (terlebih tanpa petunjuk dan resep dokter), juga dapat memicu Hepatitis Akut akibat adanya peradangan pada organ hati. 
Konsumsi lemak dalam jumlah banyak yang memicu perlemakan pada hati (non-alcoholic Steatosis Hepatitis) yang ditandai dengan terjadinya penumpukan lemakpada organ hati serta berat badan yang berlebih (obesitas), juga dapat menyebabkan peradangan hati, sehingga hati tidak dapat berfungsi dengan optimal. Untuk hal ini, penderita disarankan diet, tidak mengkonsumsi lemak berlebihan, serta pola hidup sehat, makanan bernutrisi, serta menurunkan berat badan.
Terakhir, sistem imun tubuh yang menurun juga turut berpengaruh terhadap munculnya Hepatitis Akut, di mana sistem imun tubuh menyerang dan merusak sel dan jaringan tubuh sendiri (Hepatitis Autoimun).
 

Penanganan:

Untuk penderita Hepatitis Akut serta untuk menghindari dari kemungkinan terjangkit Hepatitis Akut, lakukanlah hal-hal berikut:
1.Rawat inap di rumah sakit agar dapat memperoleh pengawasan kesehatan yang lebih baik, disertai dengan asupan makanan dan minuman serta cukup istirahat. Hepatitis Akut pada umumnya dapat sembuh dengan sendirinya tanpa penanganan khusus.
2.Obat antivirus untuk hepatitis B dan C  yang menjadi salah satu penyebab Hepatitis Akut.
3.Obat Imunisupresan untuk hepatitis akut karena autoimun.
3.Obat Cholestyramine apabila mengalami gejala hepatitis akut berupa gatal-gatal.
4.Pola hidup sehat dan bersih: mencuci tangan dengan air dan sabun sebelum makan, mencuci bahan makanan sebelum diolah/dimasak/dikonsumsi, membatasi konsumsi minuman beralkohol/tidak konsumsi sama sekali, tidak melakukan penyalahgunaan obat terlarang.
5.Menggunakan kondom saat berhubungan intim.
 

7.

Hepatitis Kronis

Penjelasan dan Gejala:

Hepatitis Kronis merupakan hepatitis yang mana peradangan pada hati berlangsung lebih dari 6 (enam) bulan. 
Gejala-gejala Hepatitis Kronis yaitu:
1.Pembesaran limpa
2.Kemerahan pada telapak tangan
3.Pendarahan
4.Kulit kemerahan
5.Pembekuan darah
6.Tinja berwarna terang
7.Kulit kekuningan
8.Mata kekuningan 
9.Penumpukan cairan di rongga perut 
10.Penurunan fungsi otak (ensefalopati hepatik)
11.Jaringan parut (sirosis) pada hati
12.Rasa sakit yang samar-samar (malaise)
13.Nafsu makan yang buruk atau berkurang bahkan tidak bernafsu makan sama sekali.
14.Kelelahan. 
15.Demam ringan
16.Ketidaknyamanan pada perut bagian atas  

Hepatitis kronis pada dasarnya disebabkan oleh virus-virus hepatitis yang menyebabkan hepatitis B (HBV), hepatitis C (HCV), dan hepatitis E (HEV). Pada umumnya, Hepatitis Kronis tergolong ringan sehingga menyebabkan kerusakan yang relatif kecil. Namun apabila dibiarkan atau dianggap sepele tanpa penanganan, maka Hepatitis Kronis dapat menghancurkan sel pada hati dan menyebabkan sirosis (gagal hati).

Hepatitis Kronis dapat disebabkan oleh sejumlah hal berikut:
1.Faktor lingkungan, antara lain: tidak tersedia air bersih yang memadai atau kurangnya ketersediaan air bersih, sanitasi lingkungan yang buruk, kontak erat dengan penderita melalui jarum suntik bekas, alat suntik, atau benda lain yang terkontaminasi virus hepatitis.
2.Faktor gaya hidup tidak sehat, antara lain: berbagi alat pakai dengan penderita hepatitis, kontak seksual dengan penderita, lingkungan yang terpapar bahan kimia beracun, konsumsi alkhohol, minum obat melebihi dosis
3.Faktor kesehatan, antara lain: tidak divaksinasi virus hepatitis, memiliki infeksi akut atau kronis dengan satu atau lebih virus hepatitis, memiliki gangguan autoimun, terlahir dari ibu yang terinfeksi virus hepatitis

Hepatitis Kronis yang disebabkan oleh Hepatitis B dan Hepatitis C seringkali tidak menyadari gejala awalnya, karena gejala awal hepatitis B dan C sangat ringan dan baru terdeteksi ketika telah berkembang menjadi kronis. Hepatitis Kronis yang disebabkan oleh Hepatitis E menyebar melalui makanan yang telah terkontaminasi dan dengan gejala awal yang jarang terlihat sehingga pengidapnya tidak menyadarinya.
 

Penanganan:

Untuk penderita Hepatitis Kronis serta untuk menghindari dari kemungkinan terjangkit Hepatitis Kronis, lakukanlah hal-hal berikut:
1.Melakukan diagnosis Hepatitis Kronis, baik melalui SITI atau ke dokter.
2.Transplantasi hati 
3.Kontrol berat badan agar ideal.
4.Konsumsi makanan yang sehat 
5.Melakukan Autoimmune chronic hepatitis atas petunjuk dokter
6.Menghindari alkhohol dan pola hidup yang tidak sehat/tidak bersih
7.Mencuci tangan dan menjaga kebersihan badan dan lingkungan
8.Mencuci bahan makanan dan menghindari makanan mentah (sebaiknya konsumsi matang)

8.

Hepatitis Autoimun

Penjelasan dan Gejala:

Hepatitis Autoimun adalah peradangan hati yang terjadi lantaran sistem imun tubuh menyerang sel hati. Serangan ini terjadi karena adanya gangguan sistem imun. Sistem imun semestinya berfungsi melindungi tubuh terhadap infeksi virus, bakteri atau mikroorganisme lainnya. Sistem ini lazim tidak bereaksi terhadap sel tubuh sendiri.

Namun, pada orang yang memiliki masalah autoimun sistem ini justru menyerang sel tubuh yang seharusnya justru dilindungi. inilah yang tejadi pada orang yang mengidap hepatitis autoimun. Sistem kekebalan tubuh yang menyerang sel hati individu itu sendiri dan memicu proses peradangan.

Hepatitis Autoimun memerlukan perawatan medis. Sebab, peradangan yang terjadi dapat berkembang hingga menyebabkan sirosis (jaringan parut) pada hati dan bahkan gagal hati, yakni kondisi saat hati mengalami kerusakan berat sehingga tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya.

Terdapat dua macam Hepatitis Autoimun, yaitu tipe 1 dan tipe 2. Hepatitis tipe 1 adalah yang paling banyak dialami. Penyakit ini bisa terjadi pada segala usia, tapi biasanya muncul pada usia remaja dan dewasa. Separuh dari pasien Hepatitis Autoimun tipe 1 juga memiliki masalah autoimun lain, seperti rheumatoid arhritis, penyakit celiac atau penyakit autoimun lainnya. sedangkan tipe 2 saat kanak-kanak. Penanganan kedua tipe Hepatitis Autoimun ini sama, tapi tipe 2 bisa lebih parah dan lebih sulit dikendalikan.

Gejala-gejala Hepatitis Autoimun:
1.Kelelahan
2.Mual
3.Muntah-muntah
4.Kulit menguning
5.Mata menguning
6.Sakit perut
7.Nyeri sendi
8.Ruam dan gatal pada kulit
9.Gatal
10.Berat badan menurun
11.Tinja berwarna terang
12.Urine berwarna gelap
13.Diare
14.Penurunan nafsu makan atau nafsu makan berkurang
15.Nyeri sendi
16.Penumpukan cairan pada perut (asites)
17.Pembengkakan pada kaki (edema)
18.Pembengkakan limpa (splenomegali)
19.Mudah mengalami memar dan berdarah
20.Penurunan fungsi otak
21.Muncul batu kantong empedu
22.Pada wanita: terhentinya siklus menstruasi pada wanita (amenore)

Penyebab utama pada Hepatitis Autoimun adalah kondisi genetik individu. Selain itu adalah faktor lingkungan (bakteri, virus, zat beracun, obat).

Penanganan:

Untuk penderita Hepatitis Autoimun serta untuk menghindari dari kemungkinan terjangkit Hepatitis Autoimun, lakukanlah hal-hal berikut:
1.Pengobatan menggunakan obat Kortikosteroid (prednisone) dan Azathioprine 
2.Penggunaan obat penekan respons imun dengan petunjuk dokter
3.Transplantasi hati
4.Diagnosa dan konsultasi ke dokter
5.Pola hidup sehat dan bersih
 

9.

Hepatitis Neonatal

Penjelasan dan Gejala:

Hepatitis Neonatal merupakan jenis hepatitis berupa peradangan hati yang terjadi khusus pada bayi, baik berusia 1 hingga 2 bulan pasca dilahirkan hingga menuju masa balita. Hepatitis Neonatal dapat disebabkan oleh penularan ibu ke bayi (sejak dalam kandungan) maupun tertular oleh orang lain yang berinteraksi langsung dengan bayi.

Gejala-gejala yang dialami oleh bayi yang mengidap Hepatitis Neonatal, yaitu:
1.Kulit bayi mengalami gatal-gatal
2.Tubuh bayi, termasuk juga kulit, mengalami memar.
3.Pasca pemeriksaan, terdapat kerusakan pada otak bayi

Hepatitis Neonatal pada dasarnya ditularkan oleh ibu (yang mengidap penyakit hepatitis) kepada bayi yang dikandungnya, di mana transmisi virus terjadi pada masa kehamilan hingga 9 bulan dan saat kelahiran bayi. Hepatitis Neonatal juga dapat ditularkan dari orang lain yang mengidap hepatitis yang kontak langsung dengan bayi.

 

Penanganan:

Untuk penderita Hepatitis Neonatal serta untuk menghindari dari kemungkinan terjangkit Hepatitis Neonatal, lakukanlah hal-hal berikut:
1.Pemeriksaan kehamilan secara rutin sejak dini untuk mengetahui ada tidaknya kemungkinan Hepatitis Neonatal pada bayi
2.Menjaga kesehatan dan kebersihan ibu hamil
3.Makanan minuman yang bernutrisi yang cukup dan bergizi sejak kehamilan
4.Vaksin hepatitis atas petunjuk dokter untuk mencegah tertularnya bayi dalam kandungan